Friday, February 20, 2015

Dualisme dalam Beramal

Bismillah..

Pagi ini saya buka twitter dan lihat ada postingan dari salah satu teman saya yang saya kagumi, yaitu Pak Komti IE-ESP 47 yang keren abis, Teuku Muhammad Al-Kautsar, terima kasih pak, walaupun kita sudah dipisahkan oleh jarak, tapi Bapak masih tetap memberi inspirasi.. hehehe

Isinya cukup mewakili apa yg selama ini saya pikirkan untuk menjawab pertanyaan serupa yang diajukan oleh orang sekitar dan bahkan oleh diri sendiri..

please read with an open mind!

Masihkah Ada Dualisme dalam Beramal



SUMBER: http://kautsarkhan.tumblr.com/post/111533359725/masihkah-ada-dualisme-dalam-beramal

Di sebuah balai pengajian seseorang bertanya kepada sang guru, “Wahai guru, apabila terdapat seorang pengemis datang kepadaku, meminta sedekah. Padahal pernah salah seorang diantara kami menyelidikinya. Kami menemukannya sedang makan, makanannya lebih mewah dari kami, tempat tinggalnya lebih bagus dari kami. Apa hukumnya kami yang memberikan sedekah kepadanya?
“Pengemis seperti itu tidak berhak dan tidak pantas untuk disedekahkan, haram bagi kita memberinya sedekah. Sabda Nabi SAW,
”Meminta-minta tidaklah halal kecuali untuk tiga golongan: orang fakir yang sangat sengsara (dzi faqr mudqi’), orang yang terlilit utang (dzi ghurm mufzhi’), dan orang yang berkewajiban membayar diyat (dzi damm muuji’).”
(HR Abu Dawud no 1398; Tirmidzi no 590; Ibnu Majah no 2198). (Abdul Qadim Zallum, Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hal. 194).

Lalu sang guru menjelaskan lagi, “namun jika datang seorang pengemis yang tidak tahu asal usul pengemis itu, kita pun hendak bersedekah. Buang pikiran dan sikap mempertanyakan apakah dia kaya melebihi kita. Bersedekahlah, ikhlaskanlah, Insya Allah itu dan menjadi amalan bagi kita.”

Selain itu, terdapat juga dalam diri kita cenderung ‘enggan’ dalam berbuat amalan sunnah, mengajak orang lain dalam beribadah, atau mengingatkan sesuatu karena salah. Sifat ini seringkali berdalih pada pandangan orang lain terhadap kita. contohnya kadang dalam diri kita sering berbisik, “ah, nggak enak sedekah banyak-banyak, nanti dibilang riya | kalau ngajak berjamaah ke mesjid atau ke majelis zikir, entar aku dipanggil pak ustad lagi | malas ah ngingatin orang itu, dia kan ilmunya lebih tinggi, nanti dianggap sok alim | …”
Padahal Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan dari Abu Ali Fudhail bin ‘Iyadh:
"Tidak beramal lagi karena manusia adalah RIYA. Beramal karena manusia adalah SYIRIK. Apabila kamu beruntung mendapat pemeliharaan Allah dari keduanya, itulah namanya IKHLAS"
(Dari Terjemah Kitab Al-Adzkar, Imam an-Nawawi)
Ibadah yang ingin diperlihatkan kepada manusia memang itu riya, malah menjadi syirik. Tetapi ibadah yang tidak ingin diperlihatkan karena manusia itu juga riya. Sudah seharusnya dalam beramal tak perlu mengharap pujian, memikirkan komentar, dan memikirkan status apalagi mengharapkan simpatisan karena amalan kita. buang pikiran dan sikap menjanggal karena manusia. Cukup kita mengerjakan karena Allah, dan memperbaiki diri karena Allah.
Semoga bermanfaat.


Selengkapnya >>

Tuesday, February 17, 2015

Puisi: Masa Depan Pertanian (Tugas MPD IE IPB- Exchange 2011) #TemuanMasaLampau

Bismillah..

Hahaha, nemu lagi nih, tugas jaman ospek Masa Perkenalan Departemen (MPD) Ilmu Ekonomi angkatan 47, atau Exhange 2011.. Lucu sendiri bacanya..

cekidot!



Nama   :           Dara Ayu Lestari
AK      :           1 (satu)
Tugas MPD IE 2011

Puisi “  peran pendidikan dalam pembangunan pertanian ”

Masa Depan Pertanian

Sesuatu yang berguna dalam hidup
Mempermudah jalan yang ditempuh
Mengundang semua yang kau mau
Dapatkan itu dengan lmu
Didiklah penerusmu
Agar memperoleh semua
Yang ia butuhkan
Agar hidup mereka
Lebih baik dari yang kita harapkan
Dengan segala karunia Tuhan
Bangunlah masa depan
Masa depan yang lebih gemilang
Dengan membangkitkan pertanian
Maka galilah dan milikilah
Kuasailah dan ajarkan
Ilmu pengetahuan
Gencarkan pendidikan pertanian
Pastikan ekonomi kita yang terdepan


today's quote:   "Innallaha wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'mannashir"
Selengkapnya >>

Friday, February 13, 2015

Membangun Ekonomi Pertanian di Era Globa-Tugas Masa Perkenalan Fakultas (MPF) ORANGE 2011 #TemuanMasaLampau



Baru nemu nih, pas lagi oprak-oprek email lama hahahaha 
semoga berguna walau udah out of the date,,
keep positive, and always be grateful!!! :D

Nb: ini kontennya sebenarnya ga semuanya asli buah pikiran gua (bukan: semuanya ga asli),kebanyakan rewrite dari tulisan lain. dan mohon maaf ga tercantum tautan sumber referensinya secara lengkap.

Tugas MPF ORANGE 2011
Tema Essay “Membangun Ekonomi Pertanian di Era Global”
Nama/NIM      : Dara Ayu Lestari/H14100022
AK                    : 12/Ekonomi Sumberdaya

            Indonesia adalah negara agraris yang terkenal akan kesuburan tanahnya dan keanekaragaman flora dan faunanya yang melimpah. Tak hanya bagian atasnya yang bermanfaat, dibagian dalam tanahnya pun tertimbum berbagai mineral dan aneka bahan tambang yang tak ternilai harganya. Belum lagi keuntungan yang didapatkan karena Indonesia telah diakui dunia sebagai negara kepulauan dengan keunggulan sumberdaya perairannya yang tak kalah menakjubkan. Pertanyaannya adalah mengapa Negara Indonesia hingga saat ini masih menjadi negara berkembang?  Sepertinya ada yang salah dalam tata cara pemerintahan sehingga ekonomi Indonesia bisa tertinggal dari negara-negara lain yang bahkan tidak memiliki sumberdaya  seperti  yang dimiliki oleh Indonesia.
            Di berbagai belahan dunia telah terjadi proses integrasi selama beberapa dekade terakhir, terutama dalam bidang Ekonomi. Proses integrasi ini penting dilakukan oleh masing-masing kawasan untuk bisa bersaing dengan kawasan lainnya dalam menghadapi arus globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia (Achsani,2008). Salah satu solusi yang dapat ditawarkan untuk permasalahan ekonomi Indonesia adalah dengan menerapkan sistem ekonomi berbasis pertanian sebagai ujung tombak untuk membangun dan memajukan ekonmomi Indonesia yang tentu saja dilakukan dengan menggunakan seluruh sumberdaya yang tersedia.
            Pertanian berkelanjutan merupakan pengelolaan sumber daya alam dan orientasi perubahan teknologi dan kelembagaan yang dilaksanakan sedemikian rupa dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang (FAO, 1989). Pembangunan di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman dan sumber genetik binatang, tidak merusak lingkungan, secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak dan secara sosial dapat diterima.
            Walaupun jaman akan terus berubah dan kehidupan akan terus berkembang menuju era global yang lebih menantang, kebutuhan primer manusia takkan pernah bisa terhapus termasuk kebutuhan akan pangan. Sebesar apapun perubahan yang terjadi, manusia harus tetap memenuhi kebutuhan pangannya yang bersumber dari produk-produk pertanian. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pertanian akan selalu hidup selama masih ada manusia. Ekonomi pertanian sangat menjajikan untuk menuntun ekonomi Indonesia kearah yang lebih baik dan mampu menjawab tantangan di era global kelak.
            Memang butuh waktu untuk melihat dan merasakan keberhasilan suatu basis ekonomi yang diterapkan di suatu wilayah terlebih untuk ekonomi pertanian. Hasilnya tidak akan terlihat dalam sekejap mata. Jika  Indonesia menerapkan sistem ekonomi pertanian sebelumnya, Indonesia tidak perlu terlalu berjerih payah atau berusaha untuk keluar dari keterpurukkan ekonomi yang sedang dialaminya. Walau ada wacana yang menyebutkan bahwa keadaan ekonomi Indonesia terus membaik dan memiliki kestabilan yang bagus, keadaan ini dapat tergambar dari cukup tingginya inflasi di Indonesia, fantastianya jumlah pengangguran karena tidak terserap oleh lapangan pekerjaan, dan lebih dari 40% rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal jika pertanian dapat dikelola dengan baik, secara langsung maupun tidak langsung hal tersebut dapat menjadi solusi untuk masalah pengangguran. Sektor pertanian termasuk sektor kerja yang padat karya yang perlahan-lahan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
            Meskipun demikian ada beberapa kendala yang menghambat pelaksanaan ekonomi pertanian yang harus ditangani terlebih dahulu. Diantaranya keberadaan pihak-pihak yang merugikan produsen maupun konsumem produk-produk pertanian seperti tengkulak dan para spekulan gelap. Kedua, sedikit sekali investor, pemberi bantuan modal atau kredit, dan berbagai pihak pengucur dana dan modal lainnya yang berani mengalirkan dananya pada usaha-usaha  sektor pertanian karena risiko yang dinilai terlalu besar. Dua hal diatas saja, sudah cukup untuk membuat para petani kesulitan untuk meneruskan usaha mereka, apalagi untuk mengembangkannya.
            Agar bisa menerapkan ekonomi yang berbasis pertanian, pemerintah harus memiliki solusi terlebih dahulu mengenai maslah-masalah pertanian yang masih ada sekarang. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah sisi kesejahteraan para petani terlebih dahulu. Karena jika orang-orang yang bekerja di sektor ini saja tidak sejahtera kita pun tidak akan dapat mengandalkan ekonomi pertanian sebagai harapan baru yang cerah bagi pertanian Indonesia. Mendirikan Bulog misalnya, adalah sebuah penyelesaian yang telah dilakukan pemerintah namun saat ini kelihatannya program ini tidak berjalan dengan cukup baik lagi. Hal lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah membantu para petani untuk dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya seperti subsidi bibit unggul dan pupuk, serta pemberian modal.
            Sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang memihak pada kepentingan ekonomi rakyat, dan ekonomi rakyat adalah sektor ekonomi yang mencakup usaha-usaha kecil, menengah dan koperasi sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional. Jika sistem ekonomi kerakyatan bisa dipadukan dengan ekonomi pertanian, maka akan tercipta suatu sistem ekonomi yang akan sesuai dengan Negara Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki sistem perintahan demokrasi. Hal ini sekaligus bisa dijadikan solusi atas masalah ekonomi yang menimpa Indonesia saat ini dan dapat menyiapkan perekonomian Indonesia untuk menyambut era gloalisasi.
Selengkapnya >>