Wednesday, August 26, 2015

Aku, Rupiah, dan Depresiasi


Kali ini yang ingin saya bahas ialah tentang pelemahan mata uang kita tercinta, "Rupiah".
Sebagai catatan, tulisan ini tidak dibuat berdasarkan teori tertentu atau hasil analisis apapun, namun hanya berdasarkan logika dan pengetahuan saya tentang teori ekonomi yang sudah kabur-kabur (maklum ga pernah belajar lagi setelah lulus, hehehe). Saya hanya membayangkan sedang menjawab soal ujian essai mata kuliah ekonomi moneter dengan pertanyaan sebagai berikut:

"Menurut anda, apa yang menyebabkan pelemahan IDR terhadap USD yang diikuti dengan pelemahan IDR terhadap mata uang lainnya? Bagaimana dampaknya terhadap kondisi ekonomi Indonesia? strategi seperti apa yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi ini?"

Pertanyaan tsb meminta 3 point jawaban, dan Saya punya dua versi jawaban, sbb.:

1. Versi mode sensi/ngajak berantem,(asumsi: gua ngebayangin ikut ujian jam 7 pagi selagi beres namatin drama 20 episode, dan baru tidur jam 4 subuh, ga pake belajar): 

  • Salah sendiri. Siapa suruh main dollar. Wong yang jadi spekulan dan mencari keuntungan pribadi dari kondisi ini ga sedikit yang justru orang pribumi.
Salah sendiri gagal Swasembada-nya keterlaluan, malu harusnya sama negara lain yang SDAnya cemen. Akibatnya harus banyak impor yg transaksinya pasti ga pake rupiah. Kalau kita sendiri ga peduli dan ga menghargai mata uang kita sendiri, gimana orang lain?
Mau nyalahin Amerika atau China yang bikin regulasi seenak jidatnya, dan bilang mereka ga mikirin negara lain mentang2 perekonomiannya udah maju? kata siapa ga mikirin negara lain. justru karena terlalu banyak mikirin kita (negara lain) lah mereka ambil keputusan.
Kalau ga bisa lebih ningkatin grade sendiri, ya jatuhkanlah grade orang lain, So You Will Always Be On Top, Right?
  • Dampaknya yaa karena banyak komoditi dan transaksi yg tetap harus pake dollar, mau gimana lagi, perut harus tetap diisi, dan janji harus tetap dipenuhi, ujung-ujungnya ya harga yang melambung tinggi, disertai penurunan daya beli.. hihihihi
  • Strategi terbaik? Kencangkan ikat pinggang. Masih belum trauma sama krisis ’98? punya lahan kosong? Kalau ga punya, ambil tanah di karung simpen di pinggir jalan depan rumah, tanemin ubi, singkong, dan pohon cabe, kumpulin kayu kering, buat persediaan makan, siapa tau udah ga mampu beli beras lagi nanti. Ayo kembali ke zaman sebelum peradaban dikenalnya mata uang hahahahaha..

Yah, tapi kalau jawabannya kaya gitu, dari point maksimal 25, gua bisa-bisa Cuma dapet nilai 3 buat upah nulis. At least gua butuh nilai 10 buat ga kapok nonton drama di malam ujian hahaha.. so, gua akan jawab dengan versi 2.

2. Versi mikir, biar ga mubazirin duit rakyat buat bayarin SKS gua, walaupun dengan pengetahuan seadaanya sisa-sisa screening slide dan catatan kuliah diangkot pas mau berangkat ujian (biar ga terlalu merasa bersalah ga belajar sama sekali, paling enggak, ada usahanya biar ga nyesel bgt #ngeles) hahahahahahah :


  • Kondisi pelemahan nilai rupiah sudah terjadi sebelumnya sejak AS memutuskan untuk melakukan pengetatan perekonomiannya. hal ini diperparah dengan kebijakan Tiongkok yang akhir2 ini telah melakukan devaluasi Yuan. padahal saat ini penggunaan Yuan sangatlah signifikan di dunia, hampir menjadi mata uang global penyaing dollar. Hal tersebut tidak lepas dari peran pemerintah Tiongkok dan warganya yang gencar menggunakan mata uang mereka sendiri , Yuan, untuk segala transaksi perdagangan internasional. Alhasil, dengan dilakukannya devaluasi Yuan (mungkin) dengan tujuan memicu ekspor Tiongkok, kepercayaan terhadap dollar menjadi semakin tinggi, dan semakin meninggalkan mata uang asing dibelakangnya termasuk rupiah.
  • Pemerintah Indonesia yang sampai saat ini belum mengambil keputusan ekstrem utk menjaga nilai tukar, beralasan bahwa perekonomian Indonesia masih baik-baik saja. Namun sebenarnya memang tidak banyak yang bisa pemerintah lakukan mengingat rezim mata uang mengambang yang dianut Indonesia, ditambah dengan sistem demokrasi yang justru menyulitkan sinergi untuk mewujudkan suatu cita. Tidak seperti salah satu tujuan devaluasi Yuan, sayangnya terdepresiasinya nilai rupiah kurang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku ekonomi nasional untuk meningkatkan ekspor secara drastis dan pada akhirnya dapat membalikkan keadaan yaitu meningkatnya nilai rupiah. Permasalahan seakan terfokus pada sektor moneter dimana para spekulan terancam oleh kerugian yang sangat besar yang benar-benar akan dapat membahayakan perekonomian Indonesia. 
  • Memperbaki koordinasi antar regulator sehingga regulasi dapat berjalan dengan efektif dan efisien akan membantu. Namun menurut saya perlu ada suatu gebrakan strategi untuk dapat mengatasi masalah depresasi rupiah yang berkelanjutan ini. Ekspektasi publik adalah salah satu hal yang dapat menjadi brigding antara sektor riil dan moneter. Dimulai dengan meningkatkan kepercayaan publik sendiri terhadap Rupiah (mencontoh apa yang dilakukan pemerintah Tiongkok beserta 1 miliar wargannya untuk percaya diri tehadap mata uangnya). Dengan penggunaan rupiah yang semakin banyak, akan meningkatkan harganya (hukum kelangkaan). Tentu harus didukung oleh kebijakan moneter yang mendukung dan terawasi dengan baik. Sealnjutnya ialah melakukan ...........................(lanjutin sendiri yah pake versi masing2, hehehe)
Dengan jawaban kaya gitu gua yakin seenggaknya dapat poin 10, imbalan dari bikin pusing yang meriksa karena jawaban yang absurd ha haha ha hahaahhaha




Selengkapnya >>

Friday, February 20, 2015

Dualisme dalam Beramal

Bismillah..

Pagi ini saya buka twitter dan lihat ada postingan dari salah satu teman saya yang saya kagumi, yaitu Pak Komti IE-ESP 47 yang keren abis, Teuku Muhammad Al-Kautsar, terima kasih pak, walaupun kita sudah dipisahkan oleh jarak, tapi Bapak masih tetap memberi inspirasi.. hehehe

Isinya cukup mewakili apa yg selama ini saya pikirkan untuk menjawab pertanyaan serupa yang diajukan oleh orang sekitar dan bahkan oleh diri sendiri..

please read with an open mind!

Masihkah Ada Dualisme dalam Beramal



SUMBER: http://kautsarkhan.tumblr.com/post/111533359725/masihkah-ada-dualisme-dalam-beramal

Di sebuah balai pengajian seseorang bertanya kepada sang guru, “Wahai guru, apabila terdapat seorang pengemis datang kepadaku, meminta sedekah. Padahal pernah salah seorang diantara kami menyelidikinya. Kami menemukannya sedang makan, makanannya lebih mewah dari kami, tempat tinggalnya lebih bagus dari kami. Apa hukumnya kami yang memberikan sedekah kepadanya?
“Pengemis seperti itu tidak berhak dan tidak pantas untuk disedekahkan, haram bagi kita memberinya sedekah. Sabda Nabi SAW,
”Meminta-minta tidaklah halal kecuali untuk tiga golongan: orang fakir yang sangat sengsara (dzi faqr mudqi’), orang yang terlilit utang (dzi ghurm mufzhi’), dan orang yang berkewajiban membayar diyat (dzi damm muuji’).”
(HR Abu Dawud no 1398; Tirmidzi no 590; Ibnu Majah no 2198). (Abdul Qadim Zallum, Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hal. 194).

Lalu sang guru menjelaskan lagi, “namun jika datang seorang pengemis yang tidak tahu asal usul pengemis itu, kita pun hendak bersedekah. Buang pikiran dan sikap mempertanyakan apakah dia kaya melebihi kita. Bersedekahlah, ikhlaskanlah, Insya Allah itu dan menjadi amalan bagi kita.”

Selain itu, terdapat juga dalam diri kita cenderung ‘enggan’ dalam berbuat amalan sunnah, mengajak orang lain dalam beribadah, atau mengingatkan sesuatu karena salah. Sifat ini seringkali berdalih pada pandangan orang lain terhadap kita. contohnya kadang dalam diri kita sering berbisik, “ah, nggak enak sedekah banyak-banyak, nanti dibilang riya | kalau ngajak berjamaah ke mesjid atau ke majelis zikir, entar aku dipanggil pak ustad lagi | malas ah ngingatin orang itu, dia kan ilmunya lebih tinggi, nanti dianggap sok alim | …”
Padahal Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan dari Abu Ali Fudhail bin ‘Iyadh:
"Tidak beramal lagi karena manusia adalah RIYA. Beramal karena manusia adalah SYIRIK. Apabila kamu beruntung mendapat pemeliharaan Allah dari keduanya, itulah namanya IKHLAS"
(Dari Terjemah Kitab Al-Adzkar, Imam an-Nawawi)
Ibadah yang ingin diperlihatkan kepada manusia memang itu riya, malah menjadi syirik. Tetapi ibadah yang tidak ingin diperlihatkan karena manusia itu juga riya. Sudah seharusnya dalam beramal tak perlu mengharap pujian, memikirkan komentar, dan memikirkan status apalagi mengharapkan simpatisan karena amalan kita. buang pikiran dan sikap menjanggal karena manusia. Cukup kita mengerjakan karena Allah, dan memperbaiki diri karena Allah.
Semoga bermanfaat.


Selengkapnya >>

Tuesday, February 17, 2015

Puisi: Masa Depan Pertanian (Tugas MPD IE IPB- Exchange 2011) #TemuanMasaLampau

Bismillah..

Hahaha, nemu lagi nih, tugas jaman ospek Masa Perkenalan Departemen (MPD) Ilmu Ekonomi angkatan 47, atau Exhange 2011.. Lucu sendiri bacanya..

cekidot!



Nama   :           Dara Ayu Lestari
AK      :           1 (satu)
Tugas MPD IE 2011

Puisi “  peran pendidikan dalam pembangunan pertanian ”

Masa Depan Pertanian

Sesuatu yang berguna dalam hidup
Mempermudah jalan yang ditempuh
Mengundang semua yang kau mau
Dapatkan itu dengan lmu
Didiklah penerusmu
Agar memperoleh semua
Yang ia butuhkan
Agar hidup mereka
Lebih baik dari yang kita harapkan
Dengan segala karunia Tuhan
Bangunlah masa depan
Masa depan yang lebih gemilang
Dengan membangkitkan pertanian
Maka galilah dan milikilah
Kuasailah dan ajarkan
Ilmu pengetahuan
Gencarkan pendidikan pertanian
Pastikan ekonomi kita yang terdepan


today's quote:   "Innallaha wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'mannashir"
Selengkapnya >>